BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gerakan Nasional peningkatan penggunaan Air Susu Ibu (ASI) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak. Upaya penting ini, keberhasilannya perlu di dukung dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakat. Para ibu, sebagai pelopor peningkatan kualitas sumber daya
Pada dasarnya, segera setelah melahirkan, secara naluri setiap ibu mampu menjalankan tugas untuk menyusui bayinya. Namun, untuk mempraktekkan bagaimana menyusui bayi yang baik dan benar, setiap ibu perlu mempelajarinya. Bukan saja ibu-ibu yang baru pertama kali hamil dan melahirkan, tetapi juga ibu-ibu yang baru melahirkan anak yang ke-2 dan seterusnya. Karena setiap bayi lahir merupakan individu tersendiri. Dengan demikian ibu perlu belajar berinteraksi dengan bayi yang baru lahir ini, agar dapar berhasil dalam menyusui. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi sejak dini dan dukungan serta bimbingan yang optimal dari keluarga, lingkungan dan tenaga kesehatan yang merawat ibu selama hamil, bersalin dan masa nifas (Ziemeretal,1999).
Dengan mengikuti dan mempelajari segala pengetahuan mengenai
laktasi, diharapkan setiap ibu hamil, bersalin dan menyusui dapat memberikan ASI secara optimal, sehingga bagi dapat tumbuh kembang normal sebagai calon sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (Winkjosostro,1999).
Memiliki seorang anak yang baru lahir adalah sesuatu yang sangat menakjubkan, perubahan hidup karena kehadiran buah hatipun terjadi. Prioritas pertama saat itu adalah memberikan ASI sebagai makanan bagi bayinya. Masa-masa menyusui tersebut sering kali membuat ibu mengalami pengerasan payudara hingga berakibat mastitis. Mastitis ini tidak akan terjadi bila ibu memberikan ASI-nya dengan cara yang benar (Winkjosostro,1999)
Mastitis adalah infeksi yang disebabkan adanya sumbatan pada duktus hingga puting susupun mengalami sumbatan. Mastitis paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca kelahiran. Penyebab penting dari mastitis ini adalah pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik menyusui yang buruk. Untuk menghambat terjadinya mastitis ini dianjurkan untuk menggunakan bra atau pakaian dalam yang memiliki penyangga yang baik pada payudaranya (Sally I, 2003).
Selalu pastikan tindakan menyusui dengan posisi dan sikap yang benar. Kesalahan sikap saat menyusui menyebabkan terjadinya sumbatan duktus. Pengurutan sebelum laktasi adalah salah satu tindakan yang sangat efektif untuk menghindari terjadinya sumbatan pada duktus. Menggunakan penyangga bantal saat menyusui dapat pula membantu membuat posisi menyusui menjadi lebih baik (Henderson Christine, 2005).
Ada sejumlah faktor yang telah diduga dapat meningkatkan resiko mastitis yaitu teknik menyusui yang buruk mengakibatkan pengeluaran ASI yang tidak efisien, pekerjaan diluar rumah yang menyebabkan interval menyusui yang panjang sehingga kekurangan waktu untuk pengeluaran ASI yang adekuat dan trauma pada payudara karena penyebab apapun yang dapat merusak jaringan kelenjar dan saluran susu sehingga dapat menyebabkan mastitis (Sally I, 2003).
Organisasi kesehatan dunia (2008) memperkirakan lebih dari 1,4 juta orang terdiagnosis menderita mastitis. The American Society memperkirakan 241.240 wanita Amerika Serikat terdiagnosis mastitis. Sedangkan di Kanada jumlah wanita yang terdiagnosis mastitis adalah 24.600 orang dan di
Di Indonesia diperkirakan wanita yang terdiagnosis mastitis adalah berjumlah 876.665 orang dan di Sumatera Utara berkisar 40-60% wanita terdiagnostik mastitis (http://www.kompas.online.com/2008).
Berdasarkan hasil survei lapangan ditemukan jumlah penderita mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2008 (Januari-Desember) sebanyak 30 orang. Hal ini menunjukkan bahwa masih rendahnya pengetahuan ibu post partum tentang mastitis terutama dalam teknik menyusui yang baik.
Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis berkeinginan untuk mengnagkat permasalahan tentang “Bagaimanakah Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009?”.
C. Tujuan Penelitian
C.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009.
C.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009 berdasarkan umur.
2. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009 berdasarkan pendidikan
3. Untuk mengetahui Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009 berdasarkan pekerjaan.
4. Untuk mengetahui pengetahuan ibu post partum Tentang Mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Periode Tahun 2009 berdasarkan informasi.
D. Manfaat Penelitian
D.1. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian yang selanjutnya tentang mastitis dan dapat dijadikan bahan bacaan yang bermanfaat bagi mahasiswa/i Akbid/Akper Nauli Husada Sibolga.
D.2. Bagi Masyarakat
Sebagai bahan masukan bagi ibu post partum untuk meningkatkan pemahaman tentang pencegahan dan pengobatan mastitis.
D.3. Bagi Petugas Kesehatan
Masukan bagi petugas kesehatan di tempat penelitian untuk dapat meningkatkan pelayanan kepada penderita mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora.
D.4. Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan pengetahuan dan pengolahan penulis dalam hal melakukan suatu penelitian khususnya dalam masalah pengetahuan ibu post partum tentang mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
A.1. Defenisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan umumnya datang dari penginderaan yang terjadi melalui panca indra manusia, yaitu : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Penelitian Rogers (1974), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) dalam diri orang tersebut menjadi proses berurutan, yakni :
1. Awarenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
2. Interest (merasa tertarik) terhadap atau objek tersebut, disini sikap subjek sudah mulai timbul .
3. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
4. Trial (mencoba), dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki stimulus.
5. Adoption (beradaptasi), dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.
A.2. Domain Kognitif
Notoatmodjo (2003), pengetahuan dalam kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (Recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima
2. Memahami (Comprehesion)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi-kan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut yang masih ada kaitannya antara satu sama lain.
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek, penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
B. Variabel yang Mempengaruhi Pengetahuan
B.1. Umur
Umur adalah lamanya hidup yang dihitung sejak lahir sampai saat ini dalam satuan tahun. Umur merupakan periode penyesuaian terhadap pola kehidupan yang baru dan harapan baru, semakin bertambah umur semakin banyak seseorang menerima respon suatu objek, sehingga pengetahuan (Notoatmodjo, 2003).
Hurlock (2002), umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Hurlock juga mengatakan bahwa seseorang mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir dan pekerjaannya.
B.2. Pendidikan
Pendidikan adalah proses pertumbuhan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan) dan hubungannya dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi yang baru (Arikunto, 2002).
Hurlock (2002), bahwa tingkat pendidikan seseorang akan menentukan pola pikir dan wawasan, selain itu tingkat pendidikan juga merupakan bagian dari pengalaman kerja. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka diharapkan stok modal manusianya (pengetahuan dan keterampilan) akan semakin meningkat. Pendidikan memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas manusia. Lewat pendidikan, manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan dan semakin tinggi pendidikan akan semakin berkualitas.
Notoatmodjo (2003), lewat pendidikan manusia akan dianggap memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuannya manusia diharapkan dapat membangun keberadaan hidupnya dengan lebih baik. Semakin tinggi pendidikan hidup manusia akan semakin berkualitas. Jika wanita berpendidikan, mereka akan membuat keputusan yang benar dalam memperhatikan kesehatannya.
B.3. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktifitas yang dilakukan sehari-hari. Jenis pekerjaan dapat diketagorikan adalah Ibu rumah tangga, wiraswasta, pegawai negeri. Dalam bidang pekerjaan, pada umumnya diperlukan adanya hubungan sosial dan hubungan dengan orang. Pekerjaan memiliki peranan penting dalam menentukan kualitas manusia, pekerjaan membatasi kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktek yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat sesuatu untuk menghindari masalah kesehatan (Notoatmodjo, 2003).
B.4. Sumber Informasi
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang memperoleh informasi, maka seseorang cenderung memperoleh pengetahuan yang lebih luas. (Notoatmodjo, 2003).
Sumber informasi adalah sesuatu yang menjadi perantara dalam menyampaikan informasi,merangsang pikiran dan kemampuan. Semakin sering orang mendengar informasi tentang Artritis Rheumatoid, maka akan semakin mengerti dengan keadaanya (Halim Andreas, 1999).
C. Mastitis
C.1. Defenisi
Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Kadang-kadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberikan tindakan yang adekuat. Abses payudara, pengumpulan nanah lokal di dalam payudara, merupakan komplikasi berat dari mastitis. Keadaan inilah yang menyebabkan beban penyakit bertambah berat (Sally I, Severin V.X, 2003).
C.2. Etiologi
Dua penyebab utama mastitis adalah stasis ASI dan infeksi stasis ASI biasanya merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau berkembang menuju infeksi. Dan organisme penyebab infeksi adalah Staphylococcus Aureus. Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di dalam payudara dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi bila terjadi, bukan primer, tetapi diakibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media pertumbuhan bakteri.
Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984 menghasilkan bukti tambahan mengenai tanda klinis mastitis dengan mengajukan klasifikasi sebagai berikut :
1. Stasis ASI
2. Inflamasi non infeksiosa (Mastitis non infeksiosa)
3. Mastitis Infeksiosa.
Statis ASI dapat membaik hanya dengan terus menyusui, mastitis non infeksiosa membutuhkan tindakan pemerasan ASI setelah menyusui, dan mastitis infeksiosa hanya dapat diobati dengan pemerasan ASI dan antibiotik sistemik. Tanpa pengeluaran ASI yang efektif, mastitis non infeksiosa sering berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan mastitis infeksiosa menjadi pembentukan abses.
C.3. Patofisiologi
Mastitis adalah suatu inflamasi atau infeksi jaringan payudara dan terjadi paling umum. Pada payudara wanita yang menyusui,meskipun halini dapat terjadi pada wanita yang tidak menyusui. Infeksi dapat terjadi akibat perpindahan mikroorganisme ke payudara oleh tangan pasien atau tangan pemberi perawatan atau dari bayi menyusui yang mengalami infeksi oral, mata atau kulit. Mastitis dapat juga disebabkan oleh organisme yang ditularkan melalui darah. Sejalan berkembangnya inflamasi, terjadi infeksi pada duktus, sehingga menyebabkan stagnasi ASI pada satu lobus atau lebih. Tekstur payudara menjadi keras atau memadat, dan pasien mengeluarkan nyeri pekak pada regio yang terkena. Puting susu yang mengeluarkan rabas material purulen, serum atau darah harus diperiksakan.
C.4. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala mastitis antara lain :
1. Payudara yang terbendung membesar, membengkak, keras dan dangat nyeri.
2. Payudara dapat terlihat merah, mengkilat dan puting teregang menjadi rata.
3. ASI tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI sampai pembengkakan berkurang.
4. Ibu akan tampak seperti sedang mengalami flu, dengan gejala demam, rasa dingin dan tubuh terasa pegal dan sakit.
C.5. Pencegahan
Mastitis dan abses payudara sangat mudah dicegah, bila menyusui dilakukan dengan baik sejak awal untuk mencegah keadaan yang meningkat statis ASI, dan bila tanda dini seperti bendungan, sumbatan saluran payudara dan nyeri puting susu diobati dengan cepat. Ibu atau siapa saja yang merawat mereka perlu mengetahui tentang penatalaksanaan menyusui yang efektif, pemberian makan bayi dengan adekuat dan tentang pemeliharaan kesehatan payudara.
1. Bayi harus mendapat kontak dini dengan ibunya, dan mulai menyusui segera setelah tampak tanda-tanda kesiapan, biasanya dalam jam pertama atau lebih.
2. Bayi harus tidur ditempat tidur yang sama dengan ibunya, atau didekatkan pada kamar yang sama.
3. Semua itu harus mendapat bantuan dan dukungan yang terlatih dalam teknik menyusui, baik sudah maupun belum pernah menyusui sebelumnya, untuk menjamin kenyutan yang baik pada payudara, pengisapan yang efektif dan pengeluaran ASI yang efisien.
4. Setiap ibu harus didorong untuk menyusui on demand, kapan saja bayi menunjukkan tanda-tanda siap menyusui, seperti membuka mulut dan mencari payudara.
5. Stiap ibu harus memahami pentingnya menyusui tanpa batas dan eksklusif.
6. Ibu harus menerima bantuan yang terlatih untuk mempertahankan laktasi bila bayinya terlalu kecil atau lemah untuk menghisap dengan efektif.
7. Bila ibu dirawat di rumah sakit, ia memerlukan bantuan yang terlatih saat menyusui pertama kali dan sebanyak yang diperlukan pada saat menyusui berikutnya.
8. Bila ibu berada di rumah, ibu memerlukan bantuan yang terlatih selama hari pertama setelah persalinan, beberapa waktu selama dua minggu pertama, dan selanjutnya seperti yang dibutuhkan sampai ibu menyusui dengan efektif dan percaya diri.
1. Penggunaan dot
2. Pemberian makanan dan minuman lain pada bayi pada bulan-bulan pertama terutama dari botol susu.
3. Tindakan melepaskan bayi dari payudara pertama sebelum ia siap untuk menghisap payudara yang lain.
4. Beban kerja yang berat atau penuh tekanan.
5. Kealpaan menyusui, termasuk bila bayi mulai tidur sepanjang malam.
6. Trauma pada payudara, karena kekerasan atau penyebab lain.
Hal-hal tersebut harus dihindari atau sedapat mungkin ibu dilindungi darinya; tetapi bila tidak terhindarkan, ibu dapat mencegah mastitis bila ia melakukan perawatan ekstra pada payudara.
C.6. Penanganan
Penanganan yang dilakukan untuk penderita mastitis antara lain :
1. Beristirahat di tempat tidur bila mungkin.
2. Sering menyusui pada payudara yang terkena.
3. Mengompres panas pada payudara yang terkena, berendam air hangat atau pancuran hangat.
4. Meminjat dengan lembut daerah benjolan saat bayi menyusui untuk membantu ASI mengalir dari daerah tersebut.
5. Pemberian antibiotik dan analgetik :
a. Amoxicillin 250-500 mg setiap 2 jam
b. Paracetamol 500 mg setiap 8 jam.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Kerangka Konsep
Kerangka monsep dalam penelitian ini memiliki dua variabel, yaitu :
a. Variabel independen (bebas) yang tidak terikat, umur, pendidikan, pekerjaan.
b. Variabel dependen (terikat) yaitu pengetahuan ibu post partum tentang mastitis
Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Mastitis 1. Umur 2. Pendidikan 3. Pekerjaan 4. Sumber Informasi
Variabel Independen Variabel Dependen
![]()
B. Defenisi Operasional
B.1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah kemampuan responden yaitu ibu post partum untuk menjawab pertanyaan tentang mastitis. Diukur dengan menggunakan kategori (Arikunto, 2002).
| | Baik | : | bila skor yang diperoleh 76-100% dari totoal jawaban benar 16-20 soal. |
| | Cukup | : | Bila total skor yang diperoleh 60-75% dari total jawaban benar 12-15 soal |
| | Kurang | : | Bila total skor <55% dari total jawaban benar 0-11 soal |
| Skala ukur | : | Ordinal | |
| Alat ukur | : | Kuesioner | |
B.2. Umur
Umur adalah suatu batasan yang menunjukkan lamanya kehidupan seseorang yang dihitung sejak lahir (Hurlock,2002). Dengan kategori
a. 21-25 tahun
b. 26-30 tahun
c. 31-35 tahun
d. 36-40 tahun
Skala ukur : Interval
Alat ukur : Kuesioner
B.3. Pendidikan
Pendidikan adalah tingkat pendidikan terakhir yang pernah diselesaikan responden (Hurlock, 2002), dengan kategori :
| a. Pendidikan Dasar | : | SD, SMP |
| b. Pendidikan Menengah | : | SMA |
| c. Pendidikan Tinggi | : | D-III, S-1 |
Skala ukur : Ordinal
Alat ukur : Kuesioner
B.4. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktifitas yang dilakukan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003), dengan kategori :
a. Ibu Rumah Tangga
b. Wiraswasta
Skala ukur : Nominal
Alat ukur : Kuesioner
B.5. Sumber Informasi
Sumber informasi adalah sumber pengetahuan yang didapat responden, sumber informasi itu berasal dari :
a. Petugas kesehatan
b. Media cetak/massa
c. Media elektronbik
Skala ukur : Nominal
Alat Ukur : Kuesioner
C. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu menggambarkan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang mastitis di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora Tahun 2009.
D. Lokasi Penelitian
D.1. Lokasi Penelitian
Penelitian yang dilakukan di klinik Saudik yaitu Bidan Elfrida Fitri Simamora, dengan alasan : jarak antara tempat tinggal peneliti dengan lokasi yang diteliti tidak terlalu jauh, mudah dijangkau, biaya hemat dan sampelnya mencukupi.
D.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai bulan April – Agustus tahun 2009 dengan kegiatan antara lain : pengajuan judul, ACC judul, Penyusunan BAB I, Penyusunan BAB II, Penyusunan BAB III, Membuat Kuesioner, Perispan Ujian Proposal, Ujian Proposal, Penelitian, Penyusunan BAB IV dan BAB V, Konsul BAB IV dan BAB V, Ujian KTI
E. Populasi dan Sampel
E.1. Populasi
Populasi adalah seluruh ibu post partum di Klinik Bidan Elfrida Fitri Simamora yaitu sebanyak 30 orang.
E.2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari seluruh populasi yang dapat mewakili populasi yang akan diteliti. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara total populasi sebanyak 30 orang.
F. Metode Pengumpulan Data
Penelitian menggunakan data primer yang diperoleh dari responden dengan menggunakan kuesioner sebagai alat ukur. Terlebih dahulu diberi penjelasan tentang tujuan penelitian dan penjelasan tentang kuesioner, cara pengisiannya dan ditanyakan kepada responden bila ada hal yang tidak dimengerti.
G. Pengolahan dan Analisa Data
G.1. Pengolahan Data
1. Editing
Dilakukan dengan memeriksa kuesioner yang telah terisi. Bila terdapat kesalahan atau kekurangan dalampengumpulan data akan dilakukan pengecekan ulang. Dengan tujuan agar data yang masuk dapat diolah secara benar, sehingga pengolahan data dapat memberikan hasil yang menggambarkan masalah yang diteliti, kemudian data dikelompokkan dengan aspek pengukuran.
2. Coding
Hasil jawaban dari setiap pertanyaan diberi kode sesuai dengan petunjuk.
3. Tabulating
Untuk mempermudah analisa data dan pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, data dimasukkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan memberikan score terhadap soal-soal yang diberikan kepada responden.
G.2. Analisa Data
Analisa Data dilakukan secara deskriptif dengan melihat presentase data. Data yang terkumpul disajikan dalambentuk tabel distribusi frekuensi, analisa data dilanjutkan dengan membahas hasil penelitian dengan menggunakan teori dan kepustakaan yang ada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar